Konspirasi besar terungkap
Merphilia harus membunuh ibunya.
Judul : Dunsa
Pengarang : Vinca Calista
Penyunting : Jia Effendie
Penyelaras : Ida Wajdi dan Fenty Nadia
Pewajah Isi : Aniza Pujiati
Cetakan : 1, November 2011
Tebal : 453 halaman
Penerbit : Atria
Ketika saya melihat twitter @Atrianic, saya agak tertarik dengan buku novel ini. Terlebih ketika saya membaca pengarangnya, Vinca Callista. Wah, padahal baru-baru ini saya baru membaca buku teenlitnya, Semburat Senyum Sore. Sebenarnya saya agak ragu dengan cerita novel Dunsa, terlebih karena saya juga pecinta buku Fantasi. Apa bisa, orang Indonesia membuat buku bergenre fantasi yang dapat menyaingi buku fantasi luar negeri? terlebih Vinca Callista sebelumnya menulis buku yang bergenre remaja. Jujur, saya agak sangsi dengan buku Dunsa.
Tidak lama kemudian, @Atrianic mengadakan kuis untuk mendapatkan buku Dunsa. Soalnya juga cukup mudah, hanya menyebutkan Empat Kerajaan besar di Prutopian. Dengan jawaban sekenanya, sayapun menjawab kuisnya. Dan alhamdulillah, saya menang kuis itu. Hore!
Lusa nya, paket yang berisi buku Dunsa sudah mendarat dengan manis di rumah saya. Langsung saya buka. Tapi setelah di buka saya agak bingung, biasanya, Atria itu memberi hadiah buku masih di segel plastik rapi. tapi yang ini sudah tidak bersegel lagi. Dan pertanyaan saya itu terjawab sudah ketika melihat halaman pertama bukunya, ada tanda tangan Vinca Callista! Ya ampun, sudah dapat buku gratis, dapat tanda tangan penulisnya pula, sangat beruntung! hahaha.
Perasaan saya campur aduk saat itu, Senang, Kaget, sama Sebal. Ya, buku Dunsa datangnya itu pada saat sekolah saya lagi gencar-gencarnya memberi ulangan harian, tugas-tugas, dan lagi sebentar lagi akan di adakan Tes RSBI dan juga UAS. Saya hampir tidak ada waktu untuk membaca Dunsa. Paling paling cuma bisa membaca satu-dua bab tiap hari, sampai akhirnya saya memutuskan begadang untuk menamatkan buku itu, karena saya sangat penasaran dengan akhir ceritanya!
Di awal cerita, saya sudah tergiur dengan deskripsi tentang Merphilia Dunsa.
"Merphilia adalah seorang gadis berusia tujuh belas tahun. Tubuhnya berisi, otot-ototnya indah hasil latihan fisik bertahun-tahun. Tingginya hampir enam kaki. Wajahnya sangat cantik, kedua matanya menawan dan sering kali menyorot tajam memperlihatkan pemikiran kritisnya. Hidungnya mancung dan lancip, bibir merahnya berisi dengan garis-garis yang melengkung seksi, rambut hitamnya di potong pendek dengan poni yang melintang dari kiri ke sebelah kanan dahinya, kulitnya mulus dan berwarna kecokelatan. Secara fisik, Merphilia bisa jadi idaman pria mana pun yang melihatnya." (hal. 8)
Merphilia bisa menjadi idaman pria mana pun. Tetapi tidak ada yang pernah melihatnya. Merphilia sejak kecil tingak di sebuah pondok sederhana di Tirai Banir, Naraniscala. Naraniscala adalah salah satu dari empat kerajaan besar di Prutopian. Ketiga Kerajaan besaar lainnya adalah Delmorania yang menyatu dengan laut, Ciracindaga yang tidak pernah kehabisan hasil alam, dan Fatacetta negeri para peri. Naraniscala sendiri merupakan yang paling kaya di Prutopian, karena semua tanahnya mengandung minyak bumi dan batu-batu mulia.
Di pondoknya yang kecil, Merphilia tinggal bersama bibi nya, Bruzila Bertin, perempuan berpenampilan nyentrik yang satu-satunya orang yang Merphilia kenal. Seumur hidupnya, Merphilia menghabiskan waktu untuk mengurus rumah, membaca buku, dan latihan bersenjata.
Sejak berumur enam tahun, Merphilia sudah di ajarkan oleh Bruzila unruk menggunakan pedang. Dia juga mengajari Merphilia memanah, melempar belati, menggunakan pisau bumerang, hingga teknik menembak crossbow.
Merphilia hanya mengenal Naraniscala dari buku-buku yang di bacanya. Dia belum perah meluhat sendiri bagaimana bentuk Istana Naraniscala yang menurut buku yang di bacanya sangat megah di sertai fasilitas mewah. Merphilia sangat ingin menjelajahi Naraniscala, bahkan kalau bisa menjelajahi Prutopian. Namun Bruzila tidak mengizinkannya turun dari Tirai Banir.
Di hari ulang tahunnya ke 17, Merphilia mendapatkan hadiah dari Bruzila, seekor kuda yang tampak gagah dengan surai hitam yang menyatu dengan rambutnya yang berwarna cokelat tua. Akhirnya, dengan menaiki kuda, dia dan Bruzila pergi ke Fastehagan, Ibu kota Naraniscala. Di sanalah dia bertemu dengan Pangeran Skandar Ardelazam, si penunggang kuda berwarna putih yang diam-diam telah mencuri hatinya.
Ternyata takdir mempertemukan mereka kembali. Merphilia ternyata harus pergi ke Istana Naraniscala, dan yang lebih mengagetkan, ternyata dia harus membunuh ibunya sendiri, Ratu Veruna. Selama ini Merphilia hanya tahu bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal, dia samasekali tidak tahu bahwa Ratu Veruna adalah ibunya. Dia juga telah di beri mantra Saira (Nama saya itu, hahaha) oleh Bruzila sehingga dia tidak mengingat masa lalunya.
Belum lagi sikap para penghuni istana yang memusuhi dirinya. Bahkan Pangeran Skandar pun juga memutuskan untuk memusuhi dirinya, karena Merphilia adalah anak dari Ratu Veruna. Merphilia tidak terima dengan hal itu, karena dia sendiri juga tidak mengenal ibunya, dan dia tidak berfikir untuk membantu ibunya, bahkan dia juga bersedia untuk membantu membunuh ibunya.Namun akhirnya hati Pangeran Skandar luluh akan Merphilia, dan kemudian membantu Merphilia untuk membunuh Ratu Veruna.
"Karena hatiku tidak mengizinkannya. Ia menolak untuk membencimu." (hal. 180)
Ratu Veruna atau Ratu Merah sebenarnya adalah Megorgo Dunsa, seorang perempuan cantik yang mengambil hati ayah Pangeran Skandar, Raja Claresta Ardelazam.Namun hubungan mereka berdua tidak di restui oleh Maharaja Badrika Ardelazam. Raja Claresta pun harus menikah dengan Puteri Danella Harwasta. Marah karena hal ini, Megorgo lalu berubah menjadi pendendam, ia memutuskan untuk belajar sihir dari kaum Zauberei dan mendirikan sebuah keratuan hitam di Kepulauan Borealis yang terpencil. Saking bencinya ia kepada Naraniscala, Megorgo yang telah berubah menjadi jahat dan berganti nama menjadi Ratu Veruna atau Ratu Merah kemudian menebar teror ke seluruh penjuru Prutopian. Tidak terhitung besarnya korban dan kerusakan yang ditumbulkan, seblum akhirnya Ratu Veruna ini dikalahkan oleh Ratu Alanisador yang kemudian menjadi penguasa Naraniscala. Jiwa nya tersimpan dalam Danda Merah, dan kemudian ada seseorang yang mengucapkan mantra Reikarnasi, sehingga sekarang dirinya bangkit kembali.
Dengan bantuan balatentara kerajaan Sena Naraniscala, Merphilia berangkat menuju kerajaan Delmorania yang paling terancam oleh kebangkitan Ratu Veruna. Peta yang ada di depan terbukti sangat memudahkan pembaca untuk mengetahui di mana letak-letak negeri dan kota yang disebutkan dalam buku ini. Dari sinilah petualangan Merphilia sang gadis petarung berlanjut. Aneka petualangan siap menanti, bermacam makhluk legendaris yang selama ini hanya ada dalam buku tiba-tiba mewujud nyata dan benar-benar harus dihadapi Merphilia. Kisah ini diselipi juga dengan bumbu-bumbu romantisme antara Merphilia dengan pangeran Skandar sehingga porsinya pas antara sebuah novel petualangan, fantasi, sekaligus novel remaja. Dan juga ada pula sosok Putera Mahkota Wavilerma Halinasha, yang ternyata juga jatuh cinta kepada Merphilia.
Di balik kisah petualangan Merphilia, Merphilia harus di hadapkan konflik antar Puteri dan Pangeran kerajaan Prutopian. Seperti Puteri Ajmirre Halinasha yang sangat membenci hubungan Merphilia dan Pangeran Skandar, Puteri Aereneve Halinasha yang sangat mengidolai sosok Merphilia, dan ada pula Puteri Mahkota Delmorania, Puteri Geneviota yang iri dengan kecantikan Merphilia, dan juga membencinya karena Ratu Veruna membunuh ibunya.
Hal yang terpenting adalah bagaimana cara Merphilia berperang dengan Ratu Veruna, ibunya sendiri. Apa yang harus di lakukan Merphilia? Akankah ia harus mengorbakan hati nuraninya demi rakyat Naraniscala?
Di buku ini ternyata ada pengecohnya. Saya terkecoh dengan fakta bahwa Merphilia harus membunuh Ibunya. Di akhir-akhir cerita, ternyata ini adalah sebuah Konspirasi besar. lalu, apa yang terjadi sebenarnya? Dan siapakah yang harus melawan Ratu Veruna?
Kisah Dunsa mengingatkan saya kepada cerita The Chronicles of Narnia: The Voyage of The Dawn Treader. Entah mengapa, ketika Merphilia harus pergi ke Delmorania menggunakan kapal Ganima, itu mengingatkan saya kepada petualangan Lucy, Edmund, Eustace dan Pangeran Caspian yang menjelajahi Narnia untuk mencari ketujuh Lord yang hilang menggunakan kapal Dawn Treader. Dan ketika kapal Merphilia dan Sena Naraniscala di handang oleh Canisadin, Monster Air dalam perjalanan ke Delmorania, itu mengingatkan saya pada Kapal Dawn Treader yang dihandang oleh Monster Air. Agaknya Dunsa memang terinspirasi dari cerita legendaris ini, tetapi Dunsa masih memepertahankan unsur penulisannya yang khas.
Di awal cerita, saya juga takjub dengan mantera-mantera sihirnya. Awalnya, saya beranggapan bahwa itu hanyalah mantera biasa. tetapi kemudian saya menemukan rahasianya. ya itu, kilab retayna retnam nas ilut!
Seperti ini matera-manteranya:
"Lha had nipre bnad ka regreb!" (Bergerak dan berpindahlah!)
"Al ume sitrep esil abmek!" (Kembali seperti semula!)
"Ayn-hu butna krucnah!" (Hancurkan tubuhnya!)
"Rihisnag nudnilr epna rakgnil!" (Kingkaran perlindungan sihir!)
Dan tak ketinggalan, salam Zauberei, yang selalu di ucapkan oleh para Zauberei, "Ekzh ierebu aziam admal-as ekzh" (Salam damai Zaburei) Kalian bisa menemukan lebih banyak lagi mantera-mantera unik di buku ini.
Jadi, tunggu apalagi untuk menikmati kisah Dunsa? Ayo, jelajahi Prutopian dan ikuti petualangan Merphilia Dunsa dalam membunuh Ratu Veruna!
Ekzh ierebu azian admal-as ekzh!
